PENDAHULUAN.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Syekh Imam Al-Alim Al-Alamah Hujjatul Islam Wa Barakatul Anam Abu Hamin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali Ath Thausy (semoga Allah mensucikan ruhnya dan menyinari kuburnya). Ia berkata: Segala puji bagi Allah dengan sebenar-benarnya pujian. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada makhluk Allah yang paling baik yaitu nabi Muhammad Saw. Semoga shalawat dan salam juga tercurahkan kepada keluarganya dan sahabatnya.
Amma Ba'du : Ketahuilah wahai orang yang tamak! yang mencari ilmu untuk menyombongkan diri, jika engkau mencari ilmu dengan tujuan pamer, sombong, merasa lebih hebat dari orang lain, untuk menarik simpati atau bertujuan untuk meraup keuntungan harta benda, maka engkau termasuk orang yang berjalan sambil merobohkan sendi-sendi agama. Sama juga engkau merusak diri sendiri dengan cara menjual akhirat dengan harta benda dunia. Dan transaksi semacam ini akan mengakibatkan perdaganganmu menjadi hancur. Sedangkan orang yang mengajarimu tentang semua ini adalah termasuk orang-orang yang menolongmu dalam kerugian dan kehancuranmu. Sebab dia ibarat orang yang menjual pedang pada perampok jalanan. Sebagaimana yang pernah di sabdakan oleh Rasulullah Saw. :
”Barangsiapa yang menolong dalam kemaksiatan, meskipun hanya dengan separuh kalimat, maka dia dengan orang yang bermaksiat adalah sekutunya (sama saja)”.
Lain halnya jika dalam mencari ilmu bertujuan untuk mencari hidayah, maka bergembiralah! karena para Malaikat akan membentangkan sayapnya untuk memayungi engkau di kala berjalan dan ikan-ikan dilaut turut meminta ampunan. Akan tetapi sebaiknya engkau mempelajari dahulu sebelum semuanya terjadi.
Sesungguhnya 'Hidayah' adalah buahnya ilmu. Hidayah mempunyai permulaan (Bidayah) dan juga ada akhirnya (Nihayah). Ia juga mempunyai dhahir dan batin. Seseorang tidak akan menemukan hidayah, kecuali telah bertekad bulat pada permulaannya. Dan seseorang tidak akan mengetahui batinnya hidayah, kecuali setelah memahami dhahirnya.
Aku adalah orang yang memberi isyarat (petunjuk jalan) tentang permulaan hidayah agar engkau mampu menguji dirimu. Setelah itu ujilah hatimu. Jika engkau membiarkan hatimu condong kepada permulaan hidayah, maka nafsu pun akan tunduk pada hatimu dan mau mengikuti. Setelah itu maka engkau harus mengambil tingkatan yang lebih tinggi untuk mencapai nihayah (akhir hidayah). Lalu berjuanglah dalam samudera ilmu.
Jika suatu saat engkau mendapatkan hatimu masih merasa senang menunda-nunda perbuatan yang merupakan hukum permulaan hidayah, maka waspadalah! karena itu bukanlah dorongan dari hati nuranimu, melainkan nafsu. Nafsu yang memerintahkan kepada keburukan. Nafsu tadi bergerak dengan mengikuti kemauan setan. Jika engkau tidak segera kembali maka engkau akan terpedaya oleh setan yang akan membawamu kepada kerusakan yang berat.
Tujuan nafsu (setan) adalah mengendalikanmu dalam keburukan dengan meninggalkan kebaikan, hingga setan bisa mempertemukanmu dalam kerugian amal.
Orang yang sesat jalan kehidupannya di dunia adalah orang yang menyangka bahwa ia telah melakukan amal kebajikan ketika mencari ilmu. Ketika itu, setan membacakan kepadamu tentang keutamaan ilmu dan derajatnya para ulama, sebagaimana disebutkan dalam atsar dan khabar. Padahal saat itu sedang menjerumuskanmu, agar engkau lupa dengan hadits Rasulullah Saw:
"Barangsiapa yang bertambah ilmunya (tetapi) tidak bertambah hidayahnya, maka ia tidak bisa bertambah dari (hadapan) Allah kecuali (semakin) jauh".
Dan dari sabda Rasulullah Saw yang lain :
" Lebih pedih-pedihnya siksa manusia besok pada hari kiamat adalah siksanya orang. Yang alim yang tidak diberi kemanfaatan oleh Allah dengan ilmunya ".
Rasulullah Saw pernah berdoa :
"Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada_Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', amal yang tidak di angkat dan do'a yang tidak di dengar!".
Rasulullah Saw melakukan do'a yang demikian itu karena beliau sendiri mempunyai pengalaman yang beliau ceritakan sebagai berikut : ”Pada suatu malam tatkala aku di Isra'kan, aku melewati suatu kaum yang mulutnya terkunci dengan gunting-gunting dari api neraka. Lalu aku bertanya: " Siapa kalian ini? Mereka menjawab : "Kami adalah orang-orang yang memerintahkan kebajikan, tetapi kami sendiri tidak melakukannya. Kami melarang orang untuk melakukan keburukan, tetapi kami sendiri malah melakukannya!".
Wahai orang-orang yang tidak berharta! ….waspadalah kamu terhadap godaan setan. Karena setan akan menyeret kalian dengan berbagai tipu daya. Sesungguhnya Neraka Wail juga di peruntukan bagi orang yang alim yang tidak mau beramal dengan apa yang sudah ia ketahui beribu-ribu kali.
Bahwa manusia yang menuntut ilmu di golongkan kedalam tiga golongan. Mereka adalah :
1). Orang yang menuntut ilmu agar memperoleh bekal di akhirat. Ia tidak mempunyai tujuan apapun kecuali Allah dan rumah akhirat. Maka orang-orang ini termasuk orang yang selamat (Faizin).
2). Orang yang mencari ilmu dengan tujuan untuk menolong kehidupannya didunia, memperoleh kemuliaan, derajat serta harta yang banyak. Orang ini sadar dan mengerti tentang niat dan tujuannya. Ia juga menyadari mengenai kelemahan tindakannya dan kehinaan dirinya. Maka orang-orang semacam ini termasuk golongan orang yang mempertaruhkan (Mukhathirin). Apabila ajal datang lebih cepat sebelum ia bertaubat, niscaya ia akan mendapat su'ul khatimah. Sedangkan ancaman Allah. Lain halnya jika ia mendapatkan taufik dan mau bertaubat sebelum datangnya ajal, kemudian menyandarkan ilmunya dengan perbuatan baik, kemudian menambal keburukannya dengan kebaikan, maka insya Allah dirinya bisa di golongkan dengan orang-orang yang selamat (Faizin). Sesungguhnya orang-orang yang bertaubat dari melakukan dosa adalah bagaikan orang yang tidak pernah berdosa sama sekali.
3). Orang yang dalam menuntut ilmu dikalahkan oleh setan, sehingga ia mengambil ilmunya untuk memperbanyak harta, sombong, mencari kemuliaan dan keagungan. Banyak orang yang mengikuti dirinya karena tertipu dengan ilmunya. Setiap ia mempergunakan ilmunya, pasti di sertai harapan akan memperoleh harta benda. Dan di dalam hatinya ada perasaan telah melakukan kebaikan sehingga akan mendapatkan tempat yang terhormat dihadapan Allah Swt. Karena itu ia memakai suatu tanda yang biasa di pakai oleh para ulama. Baik di dalam cara berpakaian maupun bertutur kata, baik yang tampak maupun tidak. Orang semacam ini termasuk orang yang rusak (Halikin). Mereka bisa di golongkan dengan orang-orang bodoh yang tertipu serta menipu diri sendiri. Apa yang dilakukannya itu bisa memutuskan dirinya dari taubat. Sebab ia telah mengira bahwa dirinya sendiri adalah orang yang baik.
Orang dari golongan ke tiga inilah yang sedang lupa akan firman Allah :
يَٓأَيُّهَا اْذِيْنَ إَمَنُوْا لِمَ تَقُولُونَ مَالَاتَفْـلُونَ .
”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat”. (QS. Ash-Shaf : 2).
Mereka juga orang-orang yang di katagorikan dalam sabda Rasulullah Saw: Aku termasuk orang yang lebih takut di antara kamu sekalian dari selain Dajjal (dibandingkan ketakutanku) kepada Dajjal.
Para sahabat bertanya: ”Siapa yang lebih engkau takuti ya Rasulullah? ”. Rasulullah menjawab: ”Yaitu Ulama Su' (ulama yang buruk)”.
Sesungguhnya keberadaan Dajjal itu cuma menyesatkan saja. Sedangkan orang alim (yang buruk) bisa memalingkan manusia pada keduniaan melalui kata-katanya yang manis. Dia juga menunjukkan tingkah laku akan lebih berhasil dibandingkan hanya sekedar bertutur kata. Sedangkan watak manusia akan selalu lebih condong untuk mengikuti perbuatan dari pada mengikuti kata-kata atau ucapan. Keadaan ini membuat orang-orang yang terpengaruh (tertipu) dengan tipuan amal perbuatan lebih banyak dibandingkan dengan tipuan ucapan manis. Dan orang-orang yang bodoh tidak akan berani untuk condong kepada keduniaan kecuali dengan adanya dorongan dari orang-orang alim yang buruk.
Jadilah ilmunya orang alim yang buruk (ulama su') menjadi penyebab beraninya hamba Allah pada kemaksiatan. Sebab nafsunya orang yang bodoh bisa menjadi jalan dirinya dalam mengharapkan karunia Allah. Mengapa demikian? ya…karena ia merasa memiliki ilmu yang menjadikannya mengira bahwa dirinya sebagai orang yang paling baik dari hamba-hamba Allah lainnya.
Wahai para pencari ilmu… jadilah kalian seperti golongan orang yang pertama. Dan takutlah kalian apabila sampai menjadi seperti golongan yang kedua. Sebab banyak sekali orang-orang yang menunda amal kebajikan, hingga ajal menjemput, mereka belum bertaubat. Akhirnya ia menjadi orang yang merugi. Takutlah kalian ….kemudian takutlah ….apabila kalian menjadi seperti golongan ke tiga. Maka kalian pasti akan menjadi rusak dengan kerusakan yang berat, yang tidak bisa diharapkan keselamatannya, oleh sebab beratnya kerusakan tersebut. Juga tidak bisa di tunggu-tunggu tentang kebaikanmu.
Jika kalian bertanya, apakah Bidayatul Hidayah itu?. Ketahuilah sesungguhnya Bidayatul Hidayah (permulaan hidayah).
Adalah dhahirnya takwa. Tidak ada penghabisan kecuali dengan takwa dan tidak ada hidayah kecuali bagi orang-orang yang bertakwa. Takwa adalah satu-satunya penjabaran tentang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan_Nya. Keduanya ini ada dua bagian.
Ingatlah! ….aku adalah orang yang memberi isyarah (penunjuk jalan) kepada kalian secara global dan ringkas. Bahwa dhahirnya takwa secara keseluruhan itu ada dua bagian, dan aku mendapatkan bagian yang ketiga, agar kitab ini menjadi suatu kumpulan yang menyeluruh. Dan Allah adalah Dzat yang di mintai pertolongan.
"Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 53)